Dukung Sahabat Tuli

Dukung proyek dakwah sumber belajar Islam dan Qur’an dalam bahasa isyarat pertama di Indonesia.

Bagikan kampanye ini ke sosial mediamu

Setiap hari kamu masih bisa mendengar adzan? Bersyukurlah.

Bersyukurlah karena sesungguhnya kamu masih bisa mendengarkan indahnya alunan ayat-ayat cinta-NYA melalui Adzan setiap hari.

Pernahkah terbayang ada teman-teman Tuli yang tak mendengar indahnya kumandang adzan?  Sahabat Tuli sangat rindu indahnya kumandang Adzan, namun mereka tak mampu mendengar.

Saat kamu bisa merasakan nikmat mendengar kajian Islam dengan mudah di sosial media, sahabat tuli cemburu sama kamu. Iya, Cemburu karena kamu memiliki kemampuan yang tidak dimiliki mereka.

Tak mudah bagi sahabat Tuli untuk mempelajari Islam dari bahasa Indonesia (teks) maupun bahasa isyarat. Mereka membutuhkan bimbingan dari orang yang dapat menyampaikan pesan Islam dalam bahasa Isyarat.

Juru Bahasa Isyarat yang tidak hanya mengartikan saja, tapi juga mencoba untuk memahamkan maknanya, mengingat Bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu mereka, melainkan bahasa Isyarat adalah bahasa pertama yang mereka terima sejak dalam kandungan sebagai fitrahnya.

Terlebih dengan minimnya media belajar yang bisa diakses oleh sahabat Tuli di Indonesia, membuat pembelajaran Islam menjadi semakin terhambat.

Sahabat Tuli kerap kali dianggap tak perlu banyak belajar agama. Orang-orang masih berpikir yang penting mereka bisa mandiri saja sudah cukup. Itulah mengapa belum ada masjid yang fokus menghadirkan kajian-kajian ilmu bagi Tuli. Bagaimana mereka bisa mempelajari Islam?

Adik Kita Sahabat Tuli sedang belajar huruf Hijaiyah

Seorang Tuli, meski tidak  mendengar, namun hatinya tetap bisa “mendengar”. Menjadi dekat dengan diri-NYA merupakan fitrah suci setiap manusia tak terkecuali dengan sahabat Tuli yang kesehariannya penuh kesunyian, namun isyarat cinta dariNYA dan untukNYA selalu menggema mengetuk pintu-pintu langit (Deaf Rihla, 2018).

Saat ia bertanya, ia butuh jawaban yang menerangkan jiwanya. Banyak sahabat Tuli yang haus belajar Islam. Tapi bahasa isyarat yang ada sangat terbatas untuk menjelaskan Islam. Ditambah lagi, tak semua Tuli bisa dengan mudah belajar melalui teks-teks bacaan. Seperti yang dirasa bunda Galuh.

“Setelah kurang lebih 30 tahun, saya baru tahu makna “basmallah”. Padahal saya terlahir sebagai muslim, sudah berapa kali saya mengucapkan basmallah selama hidup?” (Bunda Galuh, pendiri sekolah home scholling untuk anak-anak Tuli)

Didera gelisah yang luar biasa untuk belajar Islam, bunda Galuh menjawab panggilan dirinya sendiri. Ia mengembangkan bahasa isyarat yang memungkinkan para Tuli memahami Islam bersama tim Tulinya. Bahasa isyarat yang bisa memberi makna tak sekedar arti, memberi emosi menjadi lebih bernyawa untuk menanamkan pemahaman, mengubah karakter dengan kekayaan bahasanya.

Di jelang ramadhan seperti ini, bunda sering merasa sedih, ia teringat betapa banyak orang Tuli yang habiskan waktu hanya untuk sekedar tidur, bermain games, atau tidak ada inisiatif sampai waktu berbuka puasa tiba. Tak banyak yang bisa mereka perbuat. Tak banyak pula yang mengajak mereka berkomunikasi. Bunda yakin, hati seorang Tuli harus terus diisi, disemarakkan dengan ilmu dan mimpi-mimpi.

Bunda ingin membuat peraga edukasi belajar Islam yang memudahkan bagi mereka yang Tuli. Bunda ingin meyebarkan bahasa isyarat yang ia kembangkan untuk semua yang membutuhkan. Terutama alat peraga edukasi ini adalah jawaban yang dinantikan para orang tua yang dirundung kegelisahan luar biasa dengan pertanyaan “Siapakah yang akan mengajarkan Islam pada anak kami yang Tuli, sedangkan kami pun tidak tahu bahasa isyarat dan bagaimana berkomunikasi dengan anak kami?”

Bunda Galuh sudah memulainya, aksi solutif membantu Tuli memahami Islam bersama orang tua sebagai pendidik utama bagi anak Tuli. Visinya sangat besar, manfaatnya pun tak berujung kata “sekedar”. Tapi bunda tak bisa sendiri dan bunda yakin ada orang-orang luar biasa seperti kalian yang Allah gerakkan untuk aksi ini.

Maukah kalian bantu Sahabat Tuli & Bunda Galuh?

Banyak Tuli bertumbuh dewasa tanpa mengenal siapa Nabi dan Tuhannya, bahkan ada yang menyebut Allah saja mereka tidak mengerti. Hal ini sangat menyedihkan ketika mengetahui fakta bahwa Tuli tidak diwajibkan belajar Islam dan Qur’an, karena mereka Tuli, tidak bisa mendengar, bisu, tidak bisa berbicara, sehingga dikhawatirkan mereka tidak mampu melafalkan ayat-ayat Qur’an dengan tartil, jika salah, maka fatal-lah maknanya.

Qur’an Indonesia Project x Dompet Dhuafa X The Little Hijabi Home schooling dengan kerendahan hati ingin mengajak masyarakat luas untuk bersama mewujudkan impian dan harapan anak-anak Tuli muslim untuk dapat mengakses pembelajaran agama Islam dan mengenal Allah SWT serta para Nabi-NYA dalam bahasa isyarat dengan mengembangkan project pembelajaran Islam dan Qur’an dalam bahasa isyarat untuk pertama kalinya di Indonesia.

Program ini merupakan program pengembangan materi pembelajaran agama Islam secara kaffahulfitrah (utuh dan jernih) dengan menggunakan bahasa isyarat yang inovatif, kreatif dan dapat diakses dengan mudah untuk teman-teman Tuli. Beberapa turunan program nya adalah :

  • Memproduksi konten-konten video eduaksi agama Islam dengan bahasa Isyarat dengan visual yang lebih menarik.
  • Menyediakan dan memproduksi fasilitas alat bantu dan alat peraga untuk teman-teman Tuli belajar Islam.
  • Membuat dan memasyarakatkan kelas kajian islam dasar dengan akses bahasa Isyarat, agar kesadaran atas kebutuhan teman-teman Tuli terhadap informasi agama Islam dapat terpenuhi
  • Mensosialisasikan BISINDO (Bahasa Indonesia Isyarat) kepada masyarakat

AYO BANTU, dengan cara bersama dukung kolaborasi proyek sosial “Cahaya dalam Sunyi”, agar akses informasi agama bisa lebih insklusif untuk semua dengan cara berikut:

CARA BERDONASI

  1. Klik Donasi Sekarang
  2. Isi form donasi dan pilih metode pembayaran
  3. Lakukan pembayaran
Atau transfer ke
  • Mandiri 101.000.6626.673
  • Bank Muamalat 340.0000.483

atas nama Dompet Dhuafa Republika

Ayo dukung sahabat Tuli untuk bisa mengakses dan belajar agama Islam lebih dalam.